MASIGNASUKAv101
5602921039014599756

Sejarah Emotional Intelligence Quotient - Kecerdasan Emosional

Sejarah Emotional Intelligence Quotient - Kecerdasan Emosional
Add Comments

IQ → Sukses: Kesenjangan

Abad ke-20 lebih berfokus pada IQ, bukan EQ. Konsep IQ yang diperkenalkan pada akhir Abad ke-19, pada awalnya dipergunakan sebagai prediktor keberhasilan akademis. Dengan semakin dikenalnya konsep IQ, penggunaanya kian meluas tidak hanya sebagai prediktor keberhasilan akademis tetapi juga kesuksesan kerja.
Meskipun benar bahwa mereka yang memiliki IQ tinggi lebih besar kemungkinannya untuk meraih sukses di tempat kerja dibandingkan mereka yang ber-IQ rendah, terdapat kesenjangan besar dalam hubungan antara IQ dan keberhasilan. Banyak orang dengan IQ rendah sukses, namun banyak juga orang dengan IQ tinggi tidak berhasil. Jika Anda melihat keberhasilan di tempat kerja dan juga kesuksesan dalam kehidupan pribadi, semakin jelaslah bahwa IQ saja tidak menentukan keberhasilan.
Dalam kehidupan sehari-hari, Anda dapat melihat contoh dari orang-orang dengan IQ tinggi yang tidak mampu mencapai keberhasilan dalam pekerjaan mereka meskipun kemampuan akademis mereka unggul.
  • Seorang manajer berkecerdasan tinggi tidak dapat mengendalikan emosinya ketika menemukan kesalahan yang dibuat oleh tim kerjanya. Ia berteriak pada mereka, tim kerjanya merasa ketakutan dan karenanya baik dirinya maupun tim kerjanya menjadi tidak produktif.
  • Seorang remaja berkecerdasan tinggi tidak mampu memotivasi dirinya untuk belajar. Walaupun ia memiliki kemampuan belajar yang sangat tinggi, ia hanya duduk bermain game komputer seharian. Akhirnya, dia tidak memperoleh kesuksesan dalam pelajarannya dan putus sekolah.
  • Seorang programmer komputer yang cerdas diharuskan untuk bekerja sama dengan programmer lain dalam sebuah proyek. Meskipun ia memiliki keterampilan program yang hebat, ia tidak dapat berkomunikasi secara efektif dengan tim kerja lainnya. Hasil pekerjaannya tidak memuaskan meskipun kemampuan dan tingkat kecerdasannya tinggi.
  • Seorang peneliti dengan tingkat kecerdasan yang tinggi dipromosikan ke posisi manajemen di bidangnya. Meskipun keterampilan penelitiannya sempurna, ia pemalu dan takut untuk berbicara di depan orang banyak. Karena rasa percaya dirinya rendah, ia tidak dapat memimpin kelompok sehingga hasil keseluruhan dari fasilitas penelitian tersebut tidak memuaskan.
Dari semua kasus diatas, Anda dapat melihat individu dengan IQ tinggi tidak berhasil mencapai kesuksesan karena masalah yang berhubungan dengan emosi: kurangnya pengendalian emosi, kurangnya motivasi, kurangnya keterampilan berkomunikasi serta kurangnya keterampilan kepemimpinan.
Terdapat banyak keterampilan penting untuk meraih kesuksesan yang tidak berhubungan dengan IQ. Dan semua keterampilan ini berhubungan dengan emosi. Kesadaran ini mengantarkan kita pada konsep EQ.

Sejarah EQ

Konsep EQ dikembangkan sekitar tahun 1990. Sebelumnya perhatian selalu tertuju pada IQ. Konsep IQ itu sendiri dikembangkan sekitar tahun 1900an. Pada tahun 1900, Alfred Binet salah satu penemu konsep IQ, mulai melakukan tes IQ bagi anak-anak sekolahan. Pada tahun 1918, Angkatan Perang Amerika mulai melakukan tes IQ bagi semua pendaftar. Pada dekade berikutnya IQ menjadi semakin dikenal, sehingga menjadi sebuah istilah yang dikenal luas oleh sebagian besar masyarakat.
Dari tahun 1900 ke 1990, perhatian terpusat hanya pada IQ dan bukan terhadap EQ. Sekitar tahun 1990, orang-orang mulai menyadari bahwa IQ bukanlah satu-satunya penentu kesuksesan. Ada komponen penting lainnya yang tidak dapat disentuh oleh IQ. Bagaimanapun, tidak terdapat konsep terpadu dari komponen lain yang mempengaruhi kesuksesan tersebut.
"Success Intelligence", sebuah konsep yang dikembangkan oleh Howard Gardner adalah usaha pertama untuk memasukkan faktor emosional ke dalam IQ. Menurut Gardner, IQ baru dapat memprediksi sukses jika mengikut sertakan komponen lainnya di luar "verbal", "matematika" dan "visual". "Success Intelligence" dari Gardner tersebut, memiliki tujuh komponen:
  1. Verbal / Linguistik
  2. Logis / Matematika
  3. Visual / Grafis
  4. Musikal
  5. Jasmani / Kinestetik
  6. Interpersonal
  7. Intrapersonal
Tiga komponen pertama (verbal/bahasa, logis/matematika, visual/grafis) sudah termasuk ke dalam konsep dasar IQ. Komponen musikal dan jasmani/kinestetik mencerminkan tingkat keterampilan umum dalam aktivitas musik dan olah raga. Dua komponen terakhir yaitu kecerdasan interpersonal dan intrapersonal, berhubungan dengan emosi dan merupakan langkah pendahulu dari munculnya EQ yang ada saat ini.
Barulah pada tahun 1990, Salovey dan Mayer memperkenalkan istilah "Emotional Intelligence". Mereka merumuskan Emotional Intelligence IQ, EIQ, yang merupakan IQ berdiri sendiri. Namun EQ baru dikenal setelah Daniel Goleman menerbitkan buku dengan penjualan tinggi “Emotional Intelligence” di tahun 1995. Buku tersebut menarik perhatian publik akan konsep EQ dan memicu penerbitan artikel dan buku dengan tema serupa. Di akhir tahun 1990an, kecerdasan emosional menjadi salah satu perbincangan hangat dalam dunia psikologi. Dan sekarang ini EQ lebih dikenal sebagai pengukuran atas sekumpulan keterampilan penting; pengakuan akan pentingnya hal ini dalam menentukan kesuksesan sangatlah jelas.

Uraian Lengkap mengenai Psikologi Manusia

IQ + Kepribadian (tanpa EQ)

Selama lebih dari 100 tahun, psikolog telah mengukur IQ. Bahkan dalam kurun waktu yang lebih lama , psikolog telah mengukur kepribadian manusia. IQ dan kepribadian dianggap perlu untuk menggambarkan psikologi manusia secara penuh. Tes kepribadian mengukur ciri kepribadian yang ada dan tes IQ mengukur kemampuan intelektual. Ini dianggap sebagai ukuran lengkap psikologi manusia.
Namun, sebelum konsep EQ diperkenalkan, terdapat sebuah “kesenggangan”: Ada beberapa jenis keterampilan yang bukan merupakan bagian dari keterampilan IQ juga bukanlah bagian dari kepribadian. Sangatlah jelas bahwa IQ tidak berkorelasi kuat dengan kesuksesan. Telah lama diketahui bahwa terdapat faktor-faktor lain selain IQ yang dapat menjelaskan kesuksesan, dan juga kebanyakan faktor-faktor ini berhubungan dengan emosi. Akan tetapi, faktor-faktor ini seringnya dipandang sebagai bagian dari kepribadian.
Sebagai contoh, seseorang dengan tingkat kecerdasan rendah masih mungkin meraih sukses sebab ia adalah seorang yang “berbaur dengan orang lain” atau karena ia sangat bermotivasi. Seseorang dengan tingkat kecerdasan tinggi mungkin saja gagal karena ia seorang pemalu atau pemalas.
Bagaimanapun juga, kriteria di atas bukanlah merupakan ciri kepribadian melainkan “keterampilan kepribadian”. Seseorang mungkin saja memiliki kepribadian introvert namun bisa “berbaur dengan orang lain”. IQ dan EQ menggambarkan tingkatan keterampilan, namun tidak menggambarkan kepribadian. Kepribadian menggambarkan ciri yang tetap dari kepribadian seseorang. Ciri ini tidak berhubungan dengan keterampilan. Baik IQ maupun kepribadian tidak dapat mengukur keterampilan yang membentuk EQ.

IQ + Kepribadian + EQ

Penambahan konsep EQ ke dalam konsep kepribadian dan kecerdasan telah melengkapi cara pandang kita mengenai psikologi manusia. Sekarang para ahli kejiwaan mengetahui bahwa setiap orang memiliki satu kepribadian, satu tingkatan IQ dan satu tingkatan EQ.
Kepribadian menggambarkan karakter seseorang; contohnya introver, ekstrover, "pemikir", atau "perasa". Jika anda ingin tahu kepribadian anda, ikutilah test kepribadian Swiss 16 PT secara gratis!
Test IQ digunakan untuk mengetahui tingkat kecerdasan anda. Ini menganalisa kemampuan anda dalam berfikir logis, menyerap informasi, menyampaikan pelajaran, dan mengatasi masalah dan merupakan cara tepat untuk memperkirakan kesuksesan anda di sekolah tapi tidak tepat untuk memprediksi kesuksesan dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Test EQ digunakan untuk mengetahui tingkat ketrampilan emosi anda. Ini menganalisa kemampuan anda untuk memahami emosi, mengontrol emosi, memotivasi diri sendiri, memahami situasi sosial dan berkomunikasi dengan baik terhadap sesama. Ini cara tepat untuk memprediksi kesuksesan dalam kehidupan pribadi namun kurang tepat, untuk memprediksi keberhasilan dalam sekolah atau pekerjaan. Akan tetapi, kombinasi IQ dan EQ adalah cara tepat untuk memprediksi keberhasilan di sekolah, pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Tiga lingkaran pada diagram diatas saling tumpang tindih. Ini menunjukkan bahwa meskipun EQ, IQ dan kepribadian tidak saling terkait, ada semacam hubungan antara mereka. Orang-orang yang memiliki kepribadian "pemikir" cenderung memiliki skor IQ yang tinggi namun memiliki skor EQ lebih rendah daripada orang yang memiliki kepribadian "penuh perasaan". Ini tak berarti bahwa setiap orang yang perasa memiliki EQ lebih tinggi dan IQ rendah, akan tetapi ada kesamaan diantara dua hal tersebut.
Orang-orang dengan tingkat IQ yang rendah cenderung memiliki EQ yang rendah pula; seiring dengan IQ yang meningkat, EQ pun bertambah pula. Akan tetapi, ketika skor IQ menjadi sangat tinggi, EQ pada umumnya menurun. Ini tak berarti bahwa orang-orang ber-IQ rendah adalah orang yang memiliki EQ tinggi atau tidak ada orang genius yang memiliki EQ tinggi, akan tetapi demikianlah yang menjadi trend pada penelitian global.

Kompetensi Emosional

Tidak ada kompetensi satu pun yang menunjukkan EQ anda. Pada dasarnya test EQ terdiri atas lima komponen:
  1. Kesadaran Diri
  2. Manajemen Diri
  3. Auto Motivasi
  4. Kesadaran Sosial
  5. Manajemen Relasi

Apa itu kecerdasan emosi?

Emotional Intelligence (EI), sering disebut sebagai Emotional Intelligence Quotient (EQ), menggambarkan kemampuan untuk merasakan, dan mengelola emosi diri sendiri, orang lain dan kelompok.

Mendefinisikan Kecerdasan Emosional

Terdapat banyak argumentasi mengenai pengertian dari EI. Sampai saat ini, terdapat tiga model utama dari EI:
  • Model EI Berdasarkan Kemampuan
  • Gabungan Model EI
  • Model EI Berdasarkan Sifat

Model Berdasarkan Kemampuan

Konsep Salovey dan Mayer yang digunakan untuk mendefinisikan EI dengan kriteria standard mengenai sebuah konsep kecerdasan baru. Melalui riset yang berkesinambungan, definisi EI kemudian direvisi menjadi: "Kemampuan untuk menerima emosi, menyatukan emosi untuk berfikir, memahami emosi dan mengatur emosi untuk pengembangan kepribadian.
Kemampuan berdasarkan tampilan emosi digunakan sebagai sumber informasi yang bermanfaat untuk membantu seseorang mengerti dan mengendalikan lingkungan sosial. Model tersebut menjelaskan bahwa tiap orang itu berbeda tergantung dari kemampuan mereka untuk mengolah informasi dan mengaitkan proses emosi ke pengertian yang lebih luas. Kemampuan ini terlihat dalam sikap adaptasi tertentu.
Model ini mengemukakan bahwa EI meliputi 4 jenis kemampuan:
  • Menyadari Emosi: kemampuan untuk mendeteksi dan menguraikan emosi pada wajah, gambar, suara, dan artefak-artefak budaya - termasuk didalamnya kemampuan untuk mengidentifikasi emosi yang dimiliki seseorang. Menyadari emosi mewakili aspek dasar dari kecerdasan emosional, karena membuat semua pengolahan informasi emosional lainnya memungkinkan.
  • Menggunakan Emosi: kemampuan untuk memanfaatkan emosi untuk memudahkan berbagai kegiatan kognitif, seperti berpikir dan pemecahan masalah. Orang dengan kecerdasan emosional dapat sepenuhnya diandalkan karena dapat mengubah 'mood' yang paling sesuai dengan pekerjaan yang sedang ditanganinya.
  • Memahami Emosi: kemampuan untuk memahami bahasa emosi dan untuk menyadari hubungan yang rumit di antara emosi. Sebagai contoh, pemahaman emosi meliputi kemampuan untuk sensitif pada variasi emosi, dan kemampuan untuk mengenali dan menggambarkan bagaimana emosi berkembang dari waktu ke waktu.
  • Mengelola Emosi: kemampuan untuk mengatur emosi baik dalam diri kita maupun orang lain. Karenanya, orang dengan kecerdasan emosional dapat memanfaatkan emosi, bahkan emosi yang negatif serta mengelolanya untuk pencapaian tujuan.

Model Gabungan EI

Model Kompetensi Emosional

Model EI yang diperkenalkan oleh Daniel Goleman ini berfokus pada EI sebagai serangkaian kompetensi dan keterampilan yang mendorong kinerja manajerial, diukur oleh penilaian multi-penilai dan penilaian diri (Bradberry dan Greaves, 2005). Dalam bekerja dengan Emotional Intelligence (1998), Goleman mengeksplorasi fungsi EI dalam pekerjaan, dan menegaskan EI sebagai prediktor terkuat atas kesuksesan di tempat kerja, konfirmasi terbaru dari penemuan ini pada sampel dari seluruh dunia ditampilkan pada Bradberry dan Greaves, "The Emotional Intelligence Quick Book"" (2005).
Model Goleman menguraikan empat susunan utama EI:
  • Kesadaran diri: Kemampuan untuk membaca emosi seseorang dan mengenali dampaknya saat menggunakan intuisi dalam menentukan keputusan.
  • Manajemen Diri: Mengendalikan emosi dan dorongan hati seseorang serta beradaptasi pada perubahan keadaan.
  • Kesadaran Sosial: Kemampuan untuk merasakan, mengerti, dan bereaksi terhadap emosi orang lain dan pada saat yang sama memahami jaringan sosial.
  • Manajemen Hubungan: Kemampuan untuk menginspirasi, mempengaruhi, dan mengembangkan orang lain dan pada saat yang sama mengelola konflik.
Goleman mengikut sertakan serangkaian kompetensi emosional dalam tiap susunan EI. Kompetensi emosional bukanlah merupakan bakat bawaan, tapi lebih pada kemampuan belajar yang harus dilakukan dan dikembangkan untuk mencapai kinerja yang luar biasa. Goleman mengusulkan fakta bahwa individu dilahirkan dengan kecerdasan emosi umum yang menentukan potensi mereka untuk mempelajari kompetensi emosional.

Model Kecerdasan Sosial-Emosional Bar-On

Seorang ahli psikologi Reuven Bar-On (2006) mengembangkan salah satu teknik pengukuran pertama dari EI yang menggunakan istilah "Emotion Quotient". Ia mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai kepedulian dalam pemahaman diri sendiri dan orang lain secara efektif, berhubungan baik dengan orang lain, dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar agar lebih berhasil dalam menghadapi tuntutan lingkungan. Bar-On mengusulkan fakta bahwa bersamaan dengan waktu EI akan berkembang dan hal ini dapat ditingkatkan melalui pelatihan, program dan terapi.
Bar-On memberikan hipotesa bahwa individu dengan tingkat EQ yang lebih tinggi daripada rata-rata umumnya lebih berhasil dalam memenuhi tuntutan dan tekanan lingkungan. Ia mencatat bahwa kekurangan dalam hal EI dapat berarti kurangnya keberhasilan dan menjadi penyebab keberadaan masalah emosional. Masalah-masalah yang dihadapi seseorang dalam mengatasi lingkungan menurut Bar-On, sangatlah umum di kalangan invividu yang kurang dalam sub-skala pengujian realitas, pemecahan masalah, toleransi stres, dan pengendalian dorongan. Secara umum, Bar-On menganggap kecerdasan emosional dan kecerdasan kognitif memberikan kontribusi yang sama pada kecerdasan seseorang, yang kemudian dapat dijadikan indikasi atas potensi keberhasilan hidup seseorang.

Model EI Berdasarkan Sifat

Petrides mengusulkan sebuah perbedaan konseptual antara Model EI yang didasarkan pada kemampuan dan model yang berdasarkan sifat. Sifat EI mengacu pada "konstelasi dari kecenderungan perilaku dan persepsi diri terhadap kemampuan seseorang untuk mengenali, mengolah, dan memanfaatkan informasi-dengan beban emosi". Definisi EI ini meliputi kecenderungan berperilaku dan kemampuan diri untuk merasakan dan hal ini diukur dengan laporan diri, sebagai kebalikan dari model yang mengacu pada kemampuan mereka mengekspresikan diri dalam tindakan. Sifat EI harus diselidiki di dalam kerangka kepribadian.
Model EI berdasarkan sifat ialah umum dan menggabungkan Model Goleman dan Model Bar-On yang telah dibahas di atas. Petrides ialah kritikus utama dari model berbasis kemampuan dan MSCEIT berargumentasi bahwa mereka didasarkan pada prosedur penilaian yang "secara psikometrik tidak berarti".
Konseptualisasi EI sebagai suatu ciri kepribadian yang mengarah pada sebuah susunan yang berada diluar klasifikasi khusus dari kemampuan kognitif manusia. Ini merupakan suatu perbedaan yang penting , karena hal ini digunakan secara langsung pada pelaksanaan susunan, teori-teori serta hipotesa-hipotesa yang telah dirumuskan.



(sumber: https://www.iqelite.com/id/eq-emotional-intelligence-test/)
Ayu No

Sedang mengembangkan diri. Belajar, bekerja, dan sharing.